ANALISIS PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK PADA PT. BANK SULTENG CAPEM BANGGAI KEPUALAUAN

ANALISIS PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK PADA PT. BANK SULTENG CAPEM BANGGAI KEPUALAUAN

Heny Ariwijaya

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tompotika Luwuk

Abstrak

Tingkat kesehatan bank dapat diartikan sebagaikemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. , pengertian lainnya mengatakan bahwa penilaian tingkat kesehatan bank merupakanhasil penilaian kuantitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja keuangan bank. Pengertian tentang kesehatan bank ini merupakan tingkat kesehatan bank yang dilakukan secara periodik baik pertahun atau triwulanan.

Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana menilai tingkat kesehatan bank pada PT.Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan, sedangkan tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat Kesehatan Bank pada PT. Bank SultengCapem Banggai Kepulauan.

Adapunalat analisis yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 198/KMK.016/1998 tanggal 24 Maret 1998 dan Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tentang penilaian tingkat kesehatan bank, yaitu dengan cara menghitung tingkat rasio yang menjadi komponen penilaian, yang meliputi : rasio permodalan, rasio efisiensi usaha, rasio risiko usaha bank, rasio rentabilitas, dan rasio likuiditas.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa penilaian tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai kepulauan untuk periode tahun 2010 diperoleh bobot penilaian sebesar 70 dengan kategori atau predikat Cukup Sehat, sedangkan untuk periode triwulan pertama tahun 2011 diperoleh bobot penilaian sebesar 61, hasil inipun masuk dalam kategori atau predikat Cukup Sehat, hal ini menggambarkan bahwa kinerja keuangan pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan sudah cukup baik.

Kata Kunci : Kesehatan Bank


Pendahuluan

Pada perusahaan swasta tidak ada peraturan baku yang mengatur tentang kesehatan atau kinerja perusahaan, sehingga masing-masing perusahaan dan industri menilai berdasar pada pengalaman-pengalaman masa lalunya, dan biasanya yang paling banyak digunakan adalah analisis Likuiditas, Solvabilitas, dan Rentabilitas. Sama seperti halnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), semula dalam menilai kinerjanya juga dengan ketiga alat tersebut diatas. Tetapi semenjak tahun 1998 telah ada pedoman yang mengatur secara rinci penilaian tingkat kesehatan Badan Usaha Milik Negara. Pedoman tersebut tertuang dalam Surat keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 198/KMK.016/1998 tanggal 24 Mei 1998 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara jasa keuangan dan Non jasa keuangan. Untuk melengkapi surat keputusan tersebut khususnya pada sector perbankan Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia No.6/10/ PBI/2004 pada tanggal 12 April 2004 menjelaskan tentang tingkat kesehatan bank secara periodik baik pertahun atau triwulanan, merupakan hasil penilaian kuantitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja bank tertentu.

Saat ini aktivitas dan jasa-jasa bank berkembang sangat pesat dibandingkan dengan masa awal perkembangan perbankan nasional. Deregulasi keuangan yang dilakukan pemerintah membuat lembaga keuangan khususnya perbankan mengalami perubahan kearah yang jauh lebih baik dengan tingkat kepuasan layanan yang tinggi. Bank menjadi sangat dekat dengan masyarakat dan sangat membantu aktivitas keuangan mereka.

PT. Bank SultengCapem Banggai Kepulauan adalah Badan Usaha Milik NegaraJasa Keuangan yang bergerak dibidang perbankan dan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan aktifitas sehari-hari seluruh masyarakat yang ada khususnya di Kabupaten Banggai sehingga sangat penting diketahui kondisi kesehatannya.

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan dilapangan bahwa kondisi keuangan PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauanpada tiga tahun terakhir semakin meningkat, dimana pada setiap tahunnya keuntungan yang diperoleh PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauansemakin besar. Hal ini dikarenakan kinerja keuangan pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauanterus menerus meningkat setiap tahunnya.

Menyadari arti pentingnya kesehatan suatu bank bagi pembentukan kepercayaan dalam dunia perbankan serta untuk melaksanakn prinsip kehati-hatian bagi para nasabah maka penulis tertarik untuk meneliti tentang :“Analisis Penilaian Tingkat Kesehatan Bankpada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan ”.

Rumusan Masalah

Perumusan masalah yang ada pada penelitian ini yang didasarkan pada latar belakang diatas adalah sebagai berikut:

“Bagaimanakah Tingkat Kesehatan Bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauandilihat dari Aspek Keuangan ?”.

Tujuan Penelitian : tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat Kesehatan Bank pada PT. Bank SultengCapem Banggai Kepulauan .



Metode Penelitian.

Metode Analisis

Dari perumusan masalah yang penulis kemukakan terdahulu yaitu mengenai Penilaian Tingkat Kesehatan Bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan , maka alat analisis yang digunakan pada penelitian ini didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 198/KMK.016/1998 tanggal 24 Maret 1998 dan Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004

Adapun tingkat kesehatan bank ditetapkan berdasarkan penilaian terhadap kinerja keuangan untuk tahun buku yang bersangkutan, dan indikator alat analisis yang dinilai dan masing-masing bobot adalah sebagai berikut:


 

1. Rasio Permodalan :

a. Capital Adequacy Ratio (CAR) :

Equity Capital

Total Loans


Dengan ketentuan nilai bobot yang diberikan untuk hasil perhitungan Rasio diatas yang besarnya diatur sebagai berikut:

Tabel 1 Nilai Bobot Rasio

Nilai Rasio  (%)

Nilai Bobot

5   <   Rasio

4   <   Rasio  ≤ 4,99

3   <   Rasio  ≤ 3,99

2   <   Rasio  ≤ 2,99

1   <   Rasio  ≤ 1,99

0   <   Rasio  ≤ 0,99

10

8,5

7

5,5

4

2,5

Sumber : SK Menteri keuangan  dan Peraturan BI(Sutrisno.2001)

b.Current Liabilities to Equity (CLE)

Utang Lancar

Ekuitas

Dengan ketentuan nilai bobot yang diberikan untuk hasil perhitungan Rasio diatas yang besarnya diatur sebagai berikut:

Tabel  2 Nilai Bobot Rasio

Nilai Rasio  (%)

Nilai Bobot

10   <   Rasio

8    <   Rasio  ≤ 9,99

6    <   Rasio  ≤ 7,99

4    <   Rasio  ≤ 5,99

2    <   Rasio  ≤ 3,99

0    <   Rasio  ≤ 1,99

10

8,5

7

5,5

4

2,5

Sumber : SK Menteri keuangan  dan Peraturan BI(Sutrisno.2001)

2.Rasio Efisiensi Usaha

a. Leverage Multiplier Ratio (LMR)

LMR=Total Assets

Total Equity Capital

Dengan ketentuan nilai bobot yang diberikan untuk hasil perhitungan rasio diatas yang besarnya diatur sebagai berikut:

Tabel  3 Nilai Bobot Rasio

Nilai Rasio  (%)

Nilai Bobot

5   <   Rasio

4   <   Rasio  ≤ 4,99

3   <   Rasio  ≤ 3,99

2   <   Rasio  ≤ 2,99

1   <   Rasio  ≤ 1,99

0   <   Rasio  ≤ 0,99

2,5

4

5,5

7

8,5

10

Sumber : SK Menteri keuangan  dan Peraturan BI(Sutrisno.2001)

b. Costs of Money (CM)

Total Biaya Dana + Overhead Expense

Total Dana

Dengan ketentuan nilai bobot yang diberikan untuk hasil perhitungan rasio diatas yang besarnya diatur sebagai berikut :

 

Tabel 4 Nilai Bobot Rasio

Nilai Rasio  (%)

Nilai Bobot

5   <   Rasio

4    <   Rasio  ≤ 4,99

3    <   Rasio  ≤ 3,99

2    <   Rasio  ≤ 2,99

1    <   Rasio  ≤ 1,99

0         Rasio  ≤  0,99

10

8,5

7

5,5

4

2,5

Sumber : SK Menteri keuangan dan Peraturan BI(Sutrisno.2001)

3.Rasio Risiko Usaha Bank

a. Deposit Risk Ratio (DRR)

Equity Capital

Total Deposits

Dengan ketentuan nilai bobot yang diberikan untuk hasil perhitungan Rasio diatas yang besarnya diatur sebagai berikut:

Tabel  5 Nilai Bobot Rasio

Nilai Rasio  (%)

Nilai Bobot

5    <   Rasio

4    <   Rasio  ≤ 4,99

3    <   Rasio  ≤ 3,99

2    <   Rasio  ≤ 2,99

1    <   Rasio  ≤ 1,99

0    <   Rasio  ≤ 0,99

10

8,5

7

5,5

4

2,5

Sumber : SK Menteri keuangan  dan Peraturan BI(Sutrisno.2001)

b. Interest Rate Risk Ratio (IRRR)

Interest Sensitivity Asssets

Interest Sensitivity Liabilities

Dengan ketentuan nilai bobot yang diberikan untuk hasil perhitungan rasio diatas yang besarnya diatur sebagai berikut:

Tabel  6 Nilai Bobot Rasio

Nilai Rasio  (%)

Nilai Bobot

5    <   Rasio

4    <   Rasio  ≤ 4,99

3    <   Rasio  ≤ 3,99

2    <   Rasio  ≤ 2,99

1    <   Rasio  ≤ 1,99

0    <   Rasio  ≤ 0,99

10

8,5

7

5,5

4

2,5

Sumber : SK Menteri keuangan  dan Peraturan BI(Sutrisno.2001)

4. Rasio Rentabilitas

a. Return on Assets (ROA)

Operating Income

 


Total Assets

Dengan ketentuan nilai bobot yang diberikan untuk hasil perhitungan Rasio diatas yang besarnya diatur sebagai berikut:

Tabel  7 Nilai Bobot Rasio

Nilai Rasio  (%)

Nilai Bobot

5   <    Rasio

4   <    Rasio  ≤ 4,99

3    <   Rasio  ≤ 3,99

2    <   Rasio  ≤ 2,99

1    <   Rasio  ≤ 1,99

0    <   Rasio  ≤ 0,99

10

8,5

7

5,5

4

2,5

Sumber : SK Menteri keuangan  dan Peraturan BI(Sutrisno.2001)

b.Interest Margin on Loans (IML)

Interest Income – Interest Expense

Total Loans

 

Dengan ketentuan nilai bobot yang diberikan untuk hasil perhitungan rasio diatas yang besarnya diatur sebagai berikut:

Tabel  8 Nilai Bobot Rasio

Nilai Rasio  (%)

Nilai Bobot

5    <   Rasio

4    <   Rasio  ≤ 4,99

3    <   Rasio  ≤ 3,99

2    <   Rasio  ≤ 2,99

1    <   Rasio  ≤ 1,99

0    <   Rasio  ≤ 0,99

10

8,5

7

5,5

4

2,5

Sumber : SK Menteri keuangan dan Peraturan BI(Sutrisno.2001)

5.Rasio Likuiditas

a.Quick Ratio (QR)

Aktiva Lancar

Utang Lancar/Kewajiban Jangka Pendek

Dengan ketentuan nilai bobot yang diberikan untuk hasil perhitungan Rasio diatas yang besarnya diatur sebagai berikut:

 

 

 

 

Tabel  9 Nilai Bobot Rasio

Nilai Rasio  (%)

Nilai Bobot

4    <   Rasio

3    <   Rasio  ≤ 3,99

2    <   Rasio  ≤ 2,99

1    <   Rasio  ≤ 1,99

0    <   Rasio  ≤ 0,99

Rasio  ≤ 0

10

8,5

7

5,5

4

2,5

Sumber : SK Menteri keuangan  dan Peraturan BI(Sutrisno.2001)

b.Loan Deposits to Ratio (LDR)

Utang Lancar/Kewajiban Jangka Pendek

Giro + Tabungan + Deposits

Dengan ketentuan nilai bobot yang diberikan untuk hasil perhitungan rasio diatas yang besarnya diatur sebagai berikut:

Tabel  10 Nilai Bobot Rasio

Nilai Rasio  (%)

Nilai Bobot

50   <   Rasio

40   <   Rasio  ≤ 49,99

30   <   Rasio  ≤ 39,99

20  <   Rasio   ≤ 29,99

10  <   Rasio   ≤ 19,99

0    ≤   Rasio   ≤ 09,99

10

8,5

7

5,5

4

2,5

Sumber : SK Menteri keuangan  dan Peraturan BI(Sutrisno.2001)

Berdasarkan alat analisis diatas, sesuai denganKeputusan Menteri Keuangan No. 198/KMK.016/1998 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN dan Peraturan Bank Indonesia No.6 / 10 / PBI / 2004 (Arthesa,Handiman.2006 : 132) maka predikat tingkat kesehatan bank berdasarkan nilai bobot yang diperoleh, yaitu:

Tabel. 11 Predikat Kesehatan Perbankan

NO

PREDIKAT

NILAI BOBOT

1.

2.

3.

4.

SEHAT

CUKUP SEHAT

KURANG SEHAT

TIDAK SEHAT

81 S/D 100

61 S/D  80

41 S/D  60

00 S/D  40

Sumber : Bank Indonesia (Sawir,2001:44)

 

 


Hasil Penelitian dan Pebahasan

Analisis Hasil Penelitian.

Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana menilai tingkat kesehatan PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan dari aspek keuangan, penulis menggunakan alat analisisberdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 198/KMK.016/1998, dan Peraturan Bank Indonesia No.6 / 10 / PBI / 2004 yang telah penulis kemukakan pada bab sebelumnya, yang mana penelitian ini dilakukan dengan cara menilai atau mengkaji langsung data keuangan perusahaan tahun sebelumnya yakni tahun 2010 dan data keuangan tahun berjalan yakni triwulan pertama tahun 2011.

Dari hasil penelitian ini, penulis bermaksud untuk mengkaji atau memproses data keuangan yang penulis dapatkan dari tempat penelitian yakni berupa laporan keuangan konsolidasi PT. Bank Sulteng Cabang Luwuk dan , yang terdiri dari Neraca dan Laporan Rugi laba periode 2010 dan Triwulan I tahun 2011, seperti terlihat pada tabel 12 dibawah ini :


PT.BANK SULTENG CAPEM BANGKEP

N E R A C A

31 DESEMBER 2010  & TRIWULAN I 2011

POS - POS

2010

TRI.I 2011

AKTIVA

Kas Besar

Giro Bank BNI 46

Giro Bank BRI

Giro Bank Mandiri

Giro Bank Panin

Giro Pemerintah Daerah

Giro Dinas-Dinas Pemda

Giro Pihak ketiga

Deposito Bank BNI 46

Deposito Bank BRI

Deposito Bank Mandiri

Deposito Bank Panin

Deposito Pihak Ketiga

KMK Jangka Pendek

KMK Jangka Menengah/panjang

KUMK – Mikro Jangka pendek

KUMK – Mikro Jangka Menengah

Kredit Pegawai jangka panjang

Kredit Pegawai BPD

KI Jangka pendek

KI jangka panjang

Cadangan Umum PPAP kredit

Cadangan Umum PPAP Dana

Cadangan Khusus PPAP kredit yang diberikan

Persediaan Brg Cetakan & formulir

Persediaan ATK

Persediaan Buku Cek & Bilyet Giro

AKTIVA TETAP

Harga perolehan

Akumulasi Penyusutan

Nilai Buku

6.153.576.400

10.500.000.000

3.450.789.560

1.115.250.000

1.000.000.000

150.000.000

125.000.000

6.916.667.617,46

256.200.000

285.750.560

498.650.000

185.650.250

16.249.190

1.263.450.000

2.568.565.700

950.789.450

2.250.250.000

2.985.750.000

850.650.250

1.865.756.250

9.202.005.462,72

(373.787.110,50)

(24.513.363,56)

(8.639.656.563,72)

25.646.500

27.251.000

29.650.000

1.255.850.000

(865.789.650,45)

390.060.349,55

1.551.741.000

25.750.500.000

5.485.500.000

3.658.450.725

1.000.000.000

90.000.000

100.750.000

24.602.294.780,66

256.200.000

285.750.560

498.650.000

185.650.250

16.249.190

355.250.000

450.654.750

158.658.650

789.890.500

1.000.000.000

545.800.650

255.985.000

1.063.572.161

(125.555.685,50)

(14.250.685,40)

(1.988.785.256,65)

11.750.250

14.895.625

16.585.750

1.255.850.000

(965.789.650,45)

290.060.349,55

TOTAL AKTIVA

151.152.077.777,33

224.951.985.435,75

PASSIVA

PYMADIT-KMK-jangka pendek

PYMADIT-KMK-jangka meneng/pjg

PYMADIT-KUMK-MIKRO-SUP005

PYMADIT-KI-jangka men/pjg

PYMADIT-Kredit pegawai men/pjg

Giro Pemerintah Daerah

Giro Dinas-Dinas Pemda

Giro Perusahaan Daerah/BUMD

Giro Perusahaan Swasta

Giro perusahaan asuransi swata

Giro Lain-lain

Tabungan simpeda

Tabungan Lokal

Titipan pihak ke III Angs pinjaman

Titipan penampungan selisih

Titipan Intern

Pokok pendanaan KUMK

Jumlah Passiva Lancar

Kewajiban dari bank lain

Kewajiban Pihak ke III

Kewajiban lain-lain

TOTAL KEWAJIBAN

MODAL/EKUITAS

Modal di setor

780.850.890

3.560.789.950

1.256.777.850

4.568.985.000

850.560.625

5.456.850.250

3.895.275.100

3.650.185.500

1.970.250.320

985.870.500

2.650.330.450

1.966.350.450

1.565.711.899

550.265.750

450.900.450

580.855.200

956.114.260,40

35.969.924.444,40

15.656.495.600

6.987.235.300

2.083.269.100

60.696.924.444,40

93.455.153.332.,93

-

906.500.890

3.560.789.950

1.256.777.850

4.568.985.000

850.560.625

5.456.850.250

3.895.275.100

3.650.185.500

1.970.250.320

985.870.500

2.650.330.450

2.316.350.450

1.881.932.079

550.265.750

450.900.450

580.855.200

956.114.260,40

36.488.794.624,40

15.656.495.600

6.987.235.300

2.083.269.100

61.488.794.624,40

163.463.190.811,35

TOTAL PASSIVA

154.152.077.777,33

224.951.985.435,75

Sumber : PT.Bank Sulteng Capem Bangkep

Tabel  13

PT.BANK SULTENG CAPEM BANGKEP

LAPORAN RUGI/LABA

31 DESEMBER 2010 & TRIWULAN I 2011

POS - POS

2010

TRI.I 2011

Pendapatan Bunga :

Pendapatan bunga jasa giro

Pendapatan bunga deposito

Pendapatan bunga KMK

Pendapatan bunga KUMK

Pendapatan bunga KI Mikro

Pendapatan Bunga Pegawai

Pendapatan bunga antar kantor

Pendapatan provisi kredit

Total Pendapatan Bunga :

Beban bunga dan pembayaran lainnya.

Pendapatan bunga bersih

Pendapatan Operasional lainnya :

Pendapatan jasa giro Pemda

Pendapatan Jasa giro Dinas-Dinas

Pendapatan jasa giro BUMD

Pendapatan jasa giro Perusahaan

Pendapatan jasa giro lain-lain

Pendapatan Administrasi lainnya

Total Pendapatan Operasional

Beban operasional lainnya :

Beban Umum & Administrasi

Beban Gaji dan Kesejahteraan karyawan

Beban Non Operasional :

Amortisasi penyelamatan bank

Pajak Penghasilan

Total Beban Opersi & Non Opera.

Pendapatan Operasional Bersih

Laba Bersih

312.562.750,25

290.889.653,45

1.165.865.750,55

388.951.600,50

245.230.650,56

2.556.854.511,75

482.230.986,41

403.003.693,59

5.645.589.597,06

4.789.544.312,63

856.045.284,43

2.756.230.000,41

1.650.241.900,85

950.852.457,85

766.584.650,50

556.621.740,25

965.058.847,20

7.645.589.597,06

1.875.235.500

2.765.850.000

846.950.700

551.508.112,63

6.039.544.312.63

1.606.045.284,43

2.462.090.568,86

142.706.896,04

85.068.496,14

175.784.981,39

45.940.080,44

76.121.373,98

280.556.854,75

82.450.986,48

97.939.897,69

986.569.566,91

693.182.758,10

293.386.808,81

355.155.350,34

122.523.400,88

289.653.124,51

234.550.643,64

65.235.850,21

119.451.197,33

1.186.569.566,91

168.750.563

485.890.560

136.640.600

101.901.035.10

893.182.758,10

293.386.808.81

586.773.617,22

Sumber : PT.Bank Sulteng Capem Bangkep


Untuk lebih memudahkan penguraiaan pembahasan ini, dan agar lebih mudah diketahui rumus yang digunakan dalam analisis tersebut, maka penulis memfokuskan rekening – rekening atau komponen – komponen mana saja yang masuk dalam penelitian ini, seperti terlihat pada tabel 14 dibawah ini :


Tabel  14

Data Posisi Keuangan PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan

periode tahun 2010  dan Triwulan I tahun 2011

 

Uraian

2008

2009

Triwulan I

1. Total Aktiva/Passiva

2. Kas

3. Giro

4. Tabungan

5. Deposito

6. Kewajiban jangka pendek

7. Total Kewajiban (Loans)

8. Modal (Equity)

9. Pendapatan bunga

10. Biaya bunga

11. Total Biaya

12. Pendapatan operasional

154.152.077.777,33

6.153.576.400

23.257.707.177,46

12.172.862.751

1.242.500.000

35.696.924.444,40

60.696.924.444,40

93.455.153.332,93

5.645.589.597,06

4.789.544.312,63

6.039.544.312,63

7.645.589.597,06

224.951.985.435,75

1.551.741.000.-

60.687.495.505,66

4.619.811.711

1.242.500.000

36.488.794.624,40

61.488.794.624,40

163.463.190.811,35

986.569.566,91

693.182.758,10

893.182.758,10

1.186.569.566,91

Sumber : Data Keuangan PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan

Pembahasan Hasil Penelitian


Sesuai dengan alat analisis yang digunakan, yaitu berdasarkanSurat Keputusan Menteri Keuangan No. 198/KMK.016/1998, dan Peraturan Bank Indonesia No.6 / 10 / PBI / 2004 , maka untuk menentukancara menilai tingkat kesehatan Bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan yaitu dengan menggunakan tabel skor penilaian yang sudah ditetapkan nilainya untuk tiap–tiap rasio yang digunakan. Berikut ini cara perhitungan rasio-rasio tingkat kesehatan bank, adalah sebagai berikut :


1. Rasio Permodalan :

a. Capital Adequacy Ratio (CAR) : rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan permodalan yang ada untuk menutup kemungkinan kerugian didalam kegiatan perkreditan, adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :

Equity Capital

Total Loans

Dari data dapat diketahui bahwa :

1.Periode Tahun 2010 Equity capital (modal) :

Rp. 93.455.153.332,93 dan Total Loans (kewajiban) :

Rp. 60.696.924.444,40. Maka CAR tahun 2010 adalah sebagai berikut :

 

CAR = Rp. 93.455.153.332,93 = 1,539 %

Rp. 60.696.924.444,40

Dari hasil perhitungan ini diperoleh tingkat capital adequacy ratio untuk periode tahun 2010 sebesar 1,539 %, ini menunjukkan bahwa setiap Rp.1 kewajiban akan dijamin oleh modal sebesar Rp.1,539 sehingga semakin tinggi tingkat rasio CAR semakin baik pula tingkat permodalan perusahaan.

2. Periode Triwulan I Tahun 2011 Equity capital (modal) :

Rp. 163.463.190.811,35 dan Total Loans (kewajiban) :

Rp. 61.488.794.624,40. Maka CAR tahun 2011 Triwulan I adalah sebagai berikut :

CAR = Rp. 163.463.190.811,35 = 2,658 %

Rp. 61.488.794.624,40

Dari hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa setiap kewajiban sebesar Rp.1 akan dijamin oleh modal sebesar Rp.2,658berdasarkan hasil ini maka dapat diketahui capital adequacy ratiotriwulan I tahun 2011 lebih besar dari tahun 2010, hal ini menunjukkan adanya peningkatan tingkat rasio dari tahun sebelumnya.

b.Current Liabilities to Equity (CLE) : Rasio ini untuk mengetahui berapa besar perbandinganantara utang lancar dengan equitas suatu bank. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut Utang Lancar

Ekuitas

Dari datadiketahui bahwa :

1.Periode Tahun 2010Utang Lancar sebesar : Rp. 35.696.924.444,40 dan ekuitas (modal) : Rp. 93.455.153.332,93Maka CLE tahun 2010 adalah sebagai berikut :

 

CLE = Rp. 35.696.924.444,40 =0,382x 100 = 38,2 %

Rp. 93.455.153.332,93

Dari hasil perhitungan ini diperoleh tingkat rasio current liabilities to equity tahun 2010 sebesar 38,2 %, hal ini menunjukkan bahwa setiap Rp.1 kewajiban hutang lancar akan dijamin oleh modal sebesar Rp.38,2 sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat rasio semakin besar pula permodalan perusahaan.

2.Periode Triwulan I Tahun 2011 Utang Lancar sebesar :

Rp. 36.488.794.624,40dan ekuitas (modal) :

Rp. 163.463.190.811,35 Maka CLE tahun 2011 triwulan I adalah sebagai berikut :

CLE = Rp. 36.488.794.624,40 =0,223x 100 = 22,3 %

Rp.163.463.190.811,35

Dari hasil perhitungan ini diperoleh tingkat rasio current liabilities to equity triwulan I tahun 2011 sebesar 22,3 %, hal ini menunjukkan bahwa setiap Rp.1 kewajiban hutang lancar akan dijamin oleh modal sebesar Rp.22,3.-

 

2. Rasio Efisiensi Usaha

a. Leverage Multiplier Ratio (LMR) : Rasio ini untuk mengukurkemampuan manajemen bank didalam mengelola aktiva yang dikuasainya, adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :

Total Assets

Total Equity Capital

Dari datadiketahui bahwa :

1.Periode Tahun 2010Total Assets (Aktiva): Rp.154.152.077.777,33dan Total Equity (modal) :

Rp. 93.455.153.332,93Maka LMRtahun 2010 adalah sebagai berikut :

LMR = Rp. 154.152.077.777,33 =1,649%

Rp. 93.455.153.332,93

Dari hasil perhitungan ini dapat diketahui bahwa tingkat rasio leverage multiplier ratio periode tahun 2010 sebesar 1,649 % artinya bahwa setiap Rp.1 modal perusahaan akan dijamin oleh asset perusahaan sebesar Rp.1,649. Perlu diketahui bahwa semakin rendah tingkat rasio maka semakin efisiensi penggunaan asset perusahaan..

2.Periode Triwulan I Tahun 2011 Total assets (Aktiva) sebesar :

Rp. 224.951.985.435,75 dan total Equity(modal) sebesar :

Rp. 163.463.190.811,35 Maka LMR tahun 2011 triwulan I adalah sebagai berikut :

LMR = Rp. 224.951.985.435,75 =1,376 %

Rp.163.463.190.811,35

Dari hasil perhitungan ini dapat diketahui bahwa tingkat rasio leverage multiplier ratio periode triwulan I tahun 2011 sebesar 1,376 % artinya bahwa setiap Rp.1 modal perusahaan akan dijamin oleh asset perusahaan sebesar Rp.1,376. Dari hasil ini dapat diketahui tingkat efisiensi periode triwulan I tahun 2011 lebih efisien dari periode tahun 2010.

b.Costs of Money (CM) : Rasio ini untuk mengetahui berapa besarnya biaya rata-rata secara keseluruhan yang digunakan oleh bank untuk dapat mengumpulkan dananya. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :

Total Biaya Dana + Overhead Expense

Total Dana

Dari data diketahui bahwa :

1.Periode Tahun 2010total biaya dana dan overhead expense (biaya tenaga kerja dan lain-lain) sebesar Rp. 6.039.544.312,63

dan Total dana (total assets - equity capital) :

Rp. 60.696.924.444,40Maka CMtahun 2010 adalah sebagai berikut :

CM= Rp. 6.039.544.312,63=0,099 x 100 = 9,9 %

Rp. 60.696.924.444,40

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat rasio costs of money periode tahun 2010 sebesar 9,9 % artinya bahwa setiap Rp 1 biaya rata-rata yang dikeluarkan pihak bank akan mengumpulkan dana sebesar Rp. 9,9. Semakin tinggi tingkat rasio semakin besar dana yang dikumpulkan.

2.Periode Triwulan I Tahun 2011 total biaya dana dan overhead expense (biaya tenaga kerja dan lain-lain) sebesar

Rp. 893.182.758,10 dan Total dana (total assets-equity capital) : Rp. 61.488.794.624,40Maka CMtahun 2011 triwulan I adalah sebagai berikut :

CM= Rp.893.182.758,10=0,014 x 100 = 1,4%

Rp. 61.488.794.624,40

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat rasio costs of money periode triwulan Itahun 2011 sebesar 1,4 % artinya bahwa setiap Rp 1 biaya rata-rata yang dikeluarkan pihak bank akan mengumpulkan dana sebesar Rp. 1,4.

3.Rasio Risiko Usaha Bank

    1. Deposit Risk Ratio (DRR) : Rasio ini memperlihatkan risiko yang menunjukkan kemungkinan kegagalan bank dalam memenuhi kewajiban kepada para nasabah yang menyimpan dananya yang diukur dengan jumlah permodalan yang dimiliki olah bank, dimana total deposits adalah kewajiban jangka pendek bank berupa total baki debet kredit. Adapun perhitungannya sebagai berikut :

 

Equity Capital

Total Deposits

Dari data diketahui bahwa :

1.Periode Tahun 2010Equity capital (modal): Rp.93.455.153.332,93dan Total deposits :

Rp. 35.696.924.444,40Maka DRRtahun 2010 adalah sebagai berikut :

DRR = Rp. 93.455.153.332,93 =2,618%

Rp. 35.696.924.444,40

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat deposits risk ratio periode tahun 2008 sebesar 2,618 % artinya bahwa setiap Rp 1 kewajiban jangka pendek pihak bank akan dibiayai atau kecukupan modal sebesar Rp.2,618. Dalam hal ini semakin besar tingkat rasio, semakin kecil risiko yang ditanggung pihak bank

2.Periode Triwulan I Tahun 2011 Equity capital (modal) sebesar :

Rp. 163.463.190.811,35 dan total deposits sebesar :

Rp. 36.488.794.624,40 Maka DRR tahun 2011 triwulan I adalah sebagai berikut :

DRR = Rp. 163.463.190.811,35 =4,479%

Rp. 36.488.794.624,40

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat deposits risk ratio periode triwulan I tahun 2011 sebesar 4,479 % artinya bahwa setiap Rp 1 kewajiban jangka pendek pihak bank akan dibiayai atau kecukupan modal sebesar Rp.4,479.

b.Interest Rate Risk Ratio (IRRR) : Rasio ini memperlihatkan risiko yang mengukur kemungkinan interest (bunga) yang diterima oleh bank lebih kecil dibandingkandengan interest yang dibayar oleh bank, dimana interest sensitivity assets yaitu interest income atau pendapatan bunga dan interest sensitivity liabilities yaitu interest expense atau biaya bunga, adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :

Interest Sensitivity Asssets

Interest Sensitivity Liabilities

Dari datadiketahui bahwa :

1. Periode Tahun 2010interest income atau pendapatan bunga sebesar Rp. 5.645.589.597,06 dan interest expense atau biaya bunga : Rp.4.789.544.312,63Maka IRRRtahun 2010 adalah sebagai berikut :

IRRR = Rp. 5.645.589.597,06 =1,178%

Rp. 4.789.544.312,63

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat rate risk ratio periode tahun 2010 sebesar 1,178 % artinya bahwa setiap Rp 1 biaya bunga akan dijamin oleh pendapatan bunga sebesar Rp.1,178. Dalam rasio ini semakin besar tingkat rasio, semakin kecil risiko yang ditanggung pihak bank

2.Periode Triwulan I Tahun 2011 interest income atau pendapatan bunga sebesar :Rp. 986.569.566,91 dan interest expense atau biaya bunga sebesar :Rp. 693.182.758,10 Maka IRRR tahun 2011 triwulan I adalah sebagai berikut :

 

IRRR = Rp. 986.569.566,91 =1,423%

Rp.693.182.758,10

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat rate risk ratio periode triwulan I tahun 2011 sebesar 1,423 % artinya bahwa setiap Rp 1 biaya bunga akan dijamin oleh pendapatan bunga sebesar Rp.1,423. Dalam rasio ini semakin besar tingkat rasio, semakin kecil risiko yang ditanggung pihak bank.

4. Rasio Rentabilitas

a. Return on Assets (ROA) : Rasio ini untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva yang dimilikinya untuk menghasilkan berbagai pendapatan, adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :

Operating Income

 


Total Assets

Dari data diketahui bahwa :

1. Periode Tahun 2010operating income atau pendapatan operasional sebesar Rp. 7.645.589.597,06 dan total assets atau aktiva : Rp.154.152.077.777,33MakaROAtahun 2010 adalah sebagai berikut :

ROA= Rp. 7.645.589.597,06=0,049 x 100 =4,9 %

Rp. 154.152.077.777,33

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat rasio return on assets (ROA) periode tahun 2010 sebesar 4,9 % artinya bahwa kemampuan pihak bank untuk memperoleh keuntungan dengan menggunakan seluruh asset/aktiva sebesar 4,9 %. Dalam rasio ini semakin besar tingkat rasio, semakin besar keuntungan yang diperoleh pihak bank

2.Periode Triwulan I Tahun 2011 operating income atau pendapatan operasional sebesar :Rp. 1.186.569.566,91 dan total assets atau aktivasebesar :Rp. 224.951.985.435,75 Maka ROA tahun 2011 triwulan I adalah sebagai berikut :

ROA= Rp. 1.186.569.566,91=0,0052x 100= 0,52%

Rp. 224.951.985.435,75

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat rasio return on assets (ROA) periode triwulan I tahun 2011 sebesar 0,52 % artinya bahwa kemampuan pihak bank untuk memperoleh keuntungan dengan menggunakan seluruh asset/aktiva sebesar 0,25 %.

b.Interest Margin on Loans (IML) : Rasio ini untuk mengukur kemampuan perkreditan yang dimiliki oleh bank untuk menghasilkan pendapatannya, adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :

Interest Income – Interest Expense

Total Loans

Dari datadiketahui bahwa :

1. Periode Tahun 2010interest income atau pendapatan bunga sebesar Rp. 5.645.589.597,06 dan interest expense atau biaya bunga sebesar Rp. 4.789.544.312,63 serta total loans atau kewajiban sebesar: Rp. 60.696.924.444,40.- MakaIMLtahun 2010 adalah sebagai berikut :

IML= Rp. 5.645.589.597,06 – 4.789.544.312,63=0,014

Rp. 60.696.924.444,40

= 0,014x100=1,4 %

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat rasio interest margin on loans periode tahun 2010 sebesar 1,4% artinya bahwa kemampuan pihak bank untuk memperoleh keuntungan dengan menggunakan seluruh kewajibannya sebesar 1,4 %. Dalam rasio ini semakin besar tingkat rasio, semakin besar keuntungan yang diperoleh pihak bank

2.Periode Triwulan I Tahun 2011 interest income atau pendapatan bunga sebesar :Rp. 986.569.566,91 dan interest expense atau biaya bungasebesar :Rp. 693.182.758,10 serta total loans atau kewajiban sebesar Rp.61.488.794.624,40Maka IML tahun 2011 triwulan I adalah sebagai berikut :

IML= Rp. 986.569.566,91 –693.182.758,10=0,0047

Rp. 61.488.794.624,40

= 0,0047x100=0,047 %

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat rasio interest margin on loans periode triwulan I tahun 2011 sebesar 0,047% artinya bahwa kemampuan pihak bank untuk memperoleh keuntungan dengan menggunakan seluruh kewajibannya sebesar 0,047 %.

5.Rasio Likuiditas

a.Quick Ratio (QR) : Rasio ini untuk mengetahui kemampuan bank dalam membiayai kembali kewajibannya kepada para nasabah yang menyimpan dananya dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Aktiva lancar terdiri dari : kas dan dana pihak ketiga (giro,tabungan dan deposito). Utang lancar yaitu total baki debet kredit yang diberikan oleh nasabah, adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :

Aktiva Lancar

Utang Lancar/Kewajiban Jangka Pendek

Dari data diketahui bahwa :

1. Periode Tahun 2010aktiva lancar sebesar

Rp. 42.826.646.328,46 dan utang lancar atau kewajiban jangka pendek sebesar Rp.35.696.924.444,40 .- MakaQRtahun 2010 adalah sebagai berikut :

QR=Rp. 42.826.646.328,46=1,199%

Rp. 35.696.924.444,40

Dari perhitungan ini dapat diketahui tingkat quick ratio periode tahun 2010 sebesar 1,199 % artinya bahwa setiap utang lancar sebesar Rp.1 akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp.1,199. Dalam hal ini semakin tinggi tingkat rasio semakin besar pula likuiditasnya.

2.Periode Triwulan I Tahun 2011 aktiva lancar sebesar

Rp. 68.101.548.216,66 dan utang lancar atau kewajiban jangka pendek sebesar Rp.36.488.794.624,40.Maka QR tahun 2011 triwulan I adalah sebagai berikut :

QR=Rp. 68.101.548.216,66=1,866%

Rp. 36.488.794.624,40

Dari perhitungan ini dapat diketahui tingkat quick ratio periode tahun triwulan I tahun 2011 sebesar 1,866 % artinya bahwa setiap utang lancar sebesar Rp.1 akan dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp.1,866.

b.Loan to Deposit Ratio (LDR) : Rasio ini untuk mengetahui kemampuan bank dalam membayar kembali kewajiban kepada para nasabah yang telah menanamkan dananya. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :

Utang Lancar/Kewajiban Jangka Pendek

Giro + Tabungan + Deposito

Dari datadiketahui bahwa :

1. Periode Tahun 2010utang lancar sebesar Rp. 35.696.924.444,40 dan dana pihak ketiga berupa giro,tabungan, dan deposito yaitu sebesarRp.36.673.069.928,46 .- MakaLDRtahun 2010 adalah sebagai berikut :

 

LDR= Rp. 35.696.924.444,40=0,973 x 100 = 97,3 %

Rp. 36.673.069.928,46

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat loan to deposits ratio (LDR) periode tahun 2010 sebesar 97,3 % artinya bahwa kemampuan pihak bank untuk memenuhi segala kewajiban utang lancarnya sebesar 97,3 %. Dalam rasio ini semakin besar tingkat rasio semakin baik tingkat likuiditasnya.

2.Periode Triwulan I Tahun 2011 utang lancar sebesar

Rp. 36.488.794.624.,40 dan dana pihak ketiga berupa giro,tabungan, dan deposito yaitu sebesar Rp.66.549.807.216,66 .Maka LDR tahun 2011 triwulan I adalah sebagai berikut :

LDR=Rp. 36.488.794.624,40=0,548 x 100 =54,8%

Rp. 66.549.807.216,66

Dariperhitungan ini diperoleh hasil bahwa tingkat loan to deposits ratio (LDR) periode triwulan I tahun 2011 sebesar 54,9 % artinya bahwa kemampuan pihak bank untuk memenuhi segala kewajiban utang lancarnya sebesar 54,9 %.

 


Analisis Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan.

Telah penulis kemukakan bahwa tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan ditetapkan berdasarkan penilaian terhadap laporan keuangan untuk tahun buku 2010 dan triwulan pertama tahun 2011, yang dinilai berdasarkan perhitungan – perhitungan tingkat rasio-rasio bank yang meliputi: Rasio permodalan, Rasio effisiensi usaha, Rasio risiko usaha bank, Rasio rentabilitas, dan rasio likuiditas.

Dari hasil perhitungan – perhitungan tingkat rasio diatas, selanjutnya untuk menilai tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan periode tahun buku 2010, maka penulis terlebih dahulu merekap skor-skor yang telah diperoleh untuk masing-masing rasio, seperti terlihat pada tabeldibawah ini:


Tabel 15

Bobot Nilai Tingkat Kesehatan Bank Pada

PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan Periode Tahun 2010

No

Faktor Yang

Dinilai

Komponen Rasio

Tingkat Rasio

Bobot

Nilai

1.

2.

3.

4.

5.

Rasio Permodalan

Rasio Efisiensi Usaha

Rasio Risiko Usaha

Rasio Rentabilitas

Rasio Likuiditas

a. Capital Adequacy Ratio

b. Current Liabilities to Equity

a. Leverage Multiplier Ratio

b. Costs of Money

a. Deposit Risk Ratio

b. Interest Rate Risk Ratio

a. Return on Assets (ROA)

b. Interest Margin on Loans

a. Quick Ratio (QR)

b. Loan to Deposit Ratio/LDR

1,539

38,2

1,649

9,9

2,618

1,178

4,9

1,4

1,199

97,3

4

10

8,5

10

5,5

4

8,5

4

5,5

10

Total Bobot

70

Sumber : Data Olahan


Dari hasil total bobot yang diperoleh diatas yaitu sebesar 70 maka untuk menentukan tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan berdasarkan peringkat yang dikeluarkan Bank Indonesia, seperti yang terlihat pada tabel 15.

Dari tabel predikat tersebut maka tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan periode tahun 2010 dengan perolehan total bobot sebesar 70 dikategorikan dengan predikat Cukup Sehat. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja keuangan PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan sudah cukup baik.

Selanjutnya dari hasil perhitungan tingkat masing-masingrasio untuk periode triwulan pertama tahun 2011 diperoleh hasil bobot nilai dari masing-masing rasio, seperti terlihat pada tabel dibawah ini :


Tabel 16

Bobot Nilai Tingkat Kesehatan Bank Pada

PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan Periode Tahun 2011

No

Faktor Yang

Dinilai

Komponen Rasio

Tingkat Rasio

Bobot

Nilai

1.

2.

3.

4.

5.

Rasio Permodalan

Rasio Efisiensi Usaha

Rasio Risiko Usaha

Rasio Rentabilitas

Rasio Likuiditas

a. Capital Adequacy Ratio

b. Current Liabilities to Equity

a. Leverage Multiplier Ratio

b. Costs of Money

a. Deposit Risk Ratio

b. Interest Rate Risk Ratio

a. Return on Assets (ROA)

b. Interest Margin on Loans

a. Quick Ratio (QR)

b. Loan to Deposit Ratio/LDR

2,658

22,3

1,376

1,4

4,479

1,423

0,52

0,047

1,866

54,8

5,5

10

8,5

4

8,5

4

2,5

2,5

5,5

10

Total Bobot

61

Sumber : Data olahan


Dari hasil total bobot yang diperoleh diatas yaitu sebesar 61 maka untuk menentukan tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan periode triwulan pertama tahun 2011 berdasarkan peringkat yang dikeluarkan Bank Indonesia, seperti yang terlihat pada tabel 16maka tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan periode triwulan pertama tahun 2011 dengan perolehan total bobot sebesar 61 dikategorikan dengan predikat Cukup Sehat. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja keuangan PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan sudah cukup baik.

Berikut ini perbandingan tingkat kesehatan bank Pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan untuk periode tahun buku 2010 dan periode triwulan I tahun 2011, seperti terlihat pada tabel 17 dibawah ini :


Tabel. 17

Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan Periode Tahun 2010 dan Triwulan I Tahun 2011

N

O

Faktor Yang

Dinilai

Komponen

Rasio

Tahun 2010

Tri.I 2011

KET

Tingkat Rasio

Bobot Nilai

Tingkat Rasio

Bobot Nilai

1

2

3

4

5

Rasio Permodalan

Rasio Efisiensi Usaha

Rasio Risiko Usaha

Rasio Rentabilitas

Rasio Likuiditas

a. Capital Adequacy Ratio

b. Current Liabilities to Equity

a. Leverage Multiplier Ratio

b. Costs of Money

a. Deposit Risk Ratio

b. Interest Rate Risk Ratio

a. Return on Assets (ROA)

b. Interest Margin on Loans

a. Quick Ratio (QR)

b. Loan to Deposit Ratio/LDR

1,539

38,2

1,649

9,9

2,618

1,178

4,9

1,4

1,199

97,3

4

10

8,5

10

5,5

4

8,5

4

5,5

10

2,658

22,3

1,376

1,4

4,479

1,423

0,52

0,047

1,866

54,8

5,5

10

8,5

4

8,5

4

2,5

2,5

5,5

10

N

T

T

T

N

N

T

T

N

T

Jumlah Total Bobot Nilai

70

61

Sumber : Data Olahan


Berdasarkan pada tabel 17 perbandingan tingkat kesehatan bank tersebut diatas, jika dilihat dari tingkat perkembangan rasio tanpa melihat bobot nilai, pada periode tahun 2010 dengan periode triwulan I tahun 2011, terlihat adanya kenaikan dan penurunan tingkat rasio. Sampai dengan triwulan I tahun 2011 terjadi penurunan yang signifikan untuk rasio return on assets (ROA) mencapai besaran 842 % , rasio cost of money (CM) mencapai 607 % dan loan to deposits ratio (LDR) terjadi penurunan sebesar 77,5 %. Sedangkan kenaikan terjadi pada capital adequacy ratio (CAR) sebesar 72,7 % , deposits risk ratio (DRR) sebesar 71 % , dan quick ratio terjadi kenaikan sebesar 55,6 %.


Kesimpulan Dan Saran


Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis peroleh, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.Dari hasil perhitungan dan bobot nilai terhadap masing-masing tingkat rasio untuk periode tahun 2010 diperoleh hasil sebagai berikut :

Berdasarkan hasil perhitungan terhadap masing-masing tingkat rasio serta bobot penilaiannya maka diperoleh total bobot nilai sebesar 70 Dari hasil ini maka penilaian tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan untuk periode tahun 2010 dikategorikan dengan predikat Cukup Sehat.

2.Dari hasil perhitungan dan bobot nilai terhadap masing-masing tingkat rasio untuk periode triwulan pertama tahun 2011 diperoleh hasil sebagai berikut :

Berdasarkan hasil perhitungan terhadap masing-masing tingkat rasio serta bobot penilaiannya maka diperoleh total bobot nilai sebesar 61 Dari hasil ini maka penilaian tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan untuk periode triwulan pertama tahun 2011 dikategorikan dengan predikat Cukup Sehat.

B.     Saran

Berdasarkan hasil perhitungan dalam penelitian ini bahwa perolehan bobot nilaiCAR tahun 2010rendah yaitu sebesar 4 hal ini disebabkan tingkat rasioyang rendah yaitu mencapai 1,539 %, sedangkan triwulan pertama tahun 2011 bobot nilai ROA juga sangat rendah yaitu sebesar 2,5, hal ini disebabkan tingkat rasio ROA yang sangat rendah yaitu hanya mencapai 0,52 % , untuk mengatasi hal-hal tersebut, maka penulis menyarankan:

1.PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauanlebih bekerja keras untuk mencari nasabah sebanyak-banyaknya dengan cara melahirkan produk-produk unggulanagar masyarakat tertarik untuk menyimpan dananya pada PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauan.

2.Untuk memperbesar tingkat rasio ROA, PT. Bank Sulteng Capem Banggai Kepulauanuntuk lebih efisiensi dan efektif dalam pengelolaan dananya serta lebih meningkatkan pendapatan operasionalnya.



Daftar Pustaka

Arifin, Johar, 2004, Analisis Laporan Keuangan Berbasis Komputer, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.

 

Arthesa, Handiman, 2006. Bank Dan Lembaga Keuangan, Edisi Kedua, Bumi Aksara, Jakarta.

 

Husnan Suad, Enny Pudjiastuti, 1998, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Edisi ke 2, UPP AMPYKPN, Yogyakarta.

Munawir,S, 1995, Analisa laporan Keuangan, Edisi keempat, LIBERTY, Yogyakarta.

Nasution MA, 2002, Metode Research, Edisi I, Cetakan 5, Bumi Aksara, Jakarta.

Riyanto, Bambang, 1999, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi 4, BPFE, Yogyakarta.

Sawir, Agnes, 2001. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Cetakan II.Gramedia Pustaka Utama.Jakarta

Syafaruddi, Alwi, 1993, Alat-alat Analisis dalam Pembelanjaan, Edisi 3, ANDI OFFSET, Yogyakarta.

 

Syamsuddin, Lukman, 1998, Manajemen Keuangan Perusahaan, Cetakan 4, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Swasta Basu, Sukotjo Ibnu, 1998, Pengantar Bisnis Modern, (Pengantar Ekonomi Perusahaan Modern), Cetakan 6, LIBERTY, Yogyakarta.

Sutrisno, 2001, Manajemen Keuangan, Edisi I, Cetakan Kedua, Ekonosia, Yogyakarta.

Triandaru, Budisantoso.2006, Bank Dan Lembaga Keuangan Lain.Edisi Kedua,Salemba Empat.Jakarta

 

Biro

  • Biro Umum dan Keuangan
  • Biro Kepegawaian
  • Biro Akademik

Fasilitas

  • Laboratorium
  • Lapangan Futsal
  • Internet
  • Jurnal
  • Hotspot

Hubungi Kami

Kampus Universitas Tompotika

Jl. Dewi Sartika No. 65

Luwuk 94711, Indonesia

Telp. 0461 324 027

 

Copyright © 2014 Universitas Tompotika. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.
created by sunartosoti.com
Powered by Joomla 1.7 Templates